Sejarah Cincin Kawin, Ternyata Sudah Ribuan Tahun

Sejarah Cincin Kawin, Ternyata Sudah Ribuan Tahun

Sejarah Cincin Kawin, Ternyata Sudah Ribuan Tahun

Saat ini, cincin kawin tentu sudah bukan barang asing lagi bagi siapapun. Bahkan, bisa dibilang cincin kawin adalah salah satu barang yang harus dipersiapkan oleh calon pasangan pengantin sebelum hari H tiba.

Dengan banyaknya pilihan model cincin kawin saat ini, Anda tentu bisa temukan desain yang paling pas untuk Anda dan pasangan. Apalagi, Anda juga bisa pesan cincin custom yang tentunya bebas disesuaikan dengan selera.

Apabila Anda menghendaki, Anda dan pasangan bahkan juga bisa memesan satu set perhiasan yang matching dengan cincin kawin. Contohnya anting dan kalung yang juga akan dikenakan saat hari pernikahan. Terlebih lagi, Anda pun bisa pilih sesuai budget karena range harga kalung Frank and Co yang sangat variatif.

Sejarah Cincin Kawin dari Mesir Kuno

Ternyata, cincin kawin punya sejarah yang panjang, lho! Menurut catatan sejarah, cincin kawin pertama dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Hanya saja, cincin kawin pada masa itu masih terbuat dari bahan alami.

Cincin tersebut kemudian dipasangkan pada jari manis tangan kiri. Pasalnya, pada jari tersebut diyakini ada pembuluh cinta yang terhubung langsung dengan jantung. Terlepas dari fakta bahwa keyakinan tersebut ternyata keliru secara ilmiah, nyatanya tradisi pemasangan cincin kawin pada jari manis tangan kiri masih berlangsung sampai sekarang.

Hanya saja, cincin kawin pada zaman tersebut disebut sebagai cincin cinta. Fungsinya adalah sebagai simbol komitmen antara dua insan manusia. Di samping itu, cincin yang berbentuk lingkaran juga merupakan simbol lingkaran tanpa akhir, alias janji seumur hidup.

Cincin Kawan di Peradaban Lainnya

Sejarah cincin kawin ternyata tak hanya bisa ditelusuri di peradaban Mesir Kuno. Sebab, bukti sejarah dari peradaban kuno lainnya juga menunjukkan adanya keberadaan cincin yang punya fungsi serupa dengan cincin kawin di era modern seperti saat ini.

Contohnya pada masa Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Terutama di zaman Yunani Kuno, cincin kawin pada saat itu terbuat dari kulit atau tulang. Baru setelah tradisi cincin logam berkembang, cincin kawin dari besi pun mulai dikenakan. Dan pada keluarga kaya, muncul pula cincin kawin yang terbuat dari emas dan perak.

Memasuki masa Kerajaan Byzantine, baru tradisi cincin kawin yang desainnya dipersonalisasi dimulai. Tepatnya desain cincin dengan ukiran siluet atau sosok pasangan yang akan menikah. 

Pada abad ke-15, tren cincin Posie juga jadi populer, di mana sebaris kalimat dapat diukirkan pula pada cincin. Kalimat tersebut bisa berupa pesan cinta, yang membuat cincin tersebut jadi lebih personal. Sampai saat ini pun ukiran kalimat pendek masih bisa ditemukan pada desain cincin kawin.

Desain Berkembang Semakin Personal dan Rumit

Tak hanya jadi semakin personal, perkembangan zaman juga mendorong perkembangan desain cincin kawin. Desain yang sebelumnya sederhana lantas menjadi semakin rumit. Contohnya di Abad Pertengahan, di mana cincin kawin punya detail dua tangan yang saling bertautan.

Hingga akhirnya di era modern saat ini, desain cincin kawin seolah tak lagi memiliki batas. Bahkan, penggunaannya juga tak selalu harus pada jari manis tangan kiri – jika Anda menghendaki penyematan cincin di jari lain, tak masalah.

Di samping itu, pilihan cincin kawin juga bisa Anda tentukan sesuai dengan selera Anda pribadi, termasuk desain yang terbilang unik sekalipun. Untuk urusan budget atau harga, opsinya pun sama-sama luas.